Ruang Luwuk — Untuk meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi potensi insiden di area operasional, Pertamina Luwuk bekerja sama dengan Polres Banggai menggelar simulasi keadaan darurat. Kegiatan ini berlangsung di Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) Luwuk dan melibatkan berbagai unsur keamanan serta tim penanggulangan internal perusahaan.

Simulasi tersebut dirancang sebagai latihan terpadu dalam menangani berbagai skenario kedaruratan, mulai dari kebakaran, ledakan tangki, hingga potensi sabotase. Pertamina menilai latihan rutin semacam ini penting untuk memastikan respons cepat dan koordinasi yang solid antara perusahaan dan aparat keamanan.
Baca Juga : Ketua DPW Kalbar Tekankan Peran Kunci Wanita Mencetak Generasi Emas 2045
Kolaborasi Pengamanan Industri Vital
Dalam kegiatan tersebut, puluhan personel Polres Banggai turut dikerahkan untuk mendukung jalannya simulasi. Kapolres Banggai menyampaikan bahwa keterlibatan kepolisian merupakan bentuk dukungan terhadap keamanan objek vital nasional yang berada di wilayah mereka.
“Pertamina merupakan objek vital yang berpengaruh terhadap stabilitas energi masyarakat. Karena itu, kami berkewajiban memastikan setiap potensi kerawanan bisa diantisipasi sejak dini,” ujarnya.
Anggota kepolisian dilibatkan dalam pengaturan perimeter, pengamanan akses masuk, serta respons cepat jika terjadi ancaman eksternal. Sementara tim internal Pertamina berfokus pada langkah pemadaman awal, evakuasi pekerja, dan penanganan teknis.
Latihan Penanganan Kebakaran dan Evakuasi
Skenario pertama simulasi menampilkan insiden kebocoran bahan bakar yang memicu kebakaran di area tangki penyimpanan. Tim pemadam internal Pertamina bergerak cepat melakukan pemadaman awal, sementara petugas lainnya mengevakuasi pekerja dari area berbahaya. Setelah itu, tim pemadam kebakaran dari Polres Banggai dan petugas BPBD turut dikerahkan untuk memadamkan api secara menyeluruh.
Skenario kedua melibatkan ancaman teror dan potensi sabotase. Dalam skenario ini, aparat kepolisian dilatih untuk mengamankan wilayah, melakukan pencarian pelaku, serta memastikan area operasi tetap steril dari gangguan keamanan.
Pertamina menyatakan bahwa kedua skenario tersebut dipilih karena termasuk risiko yang paling mungkin terjadi di lapangan.
Penguatan SOP dan Respons Cepat
Manajemen Pertamina Luwuk menjelaskan bahwa latihan ini bertujuan menilai kesiapan sumber daya manusia, kelengkapan alat, hingga efektivitas standar operasional prosedur (SOP) yang berlaku. Setiap langkah dalam simulasi dicatat untuk dilakukan evaluasi lanjutan.
“Kami ingin memastikan seluruh tim memahami tugasnya. Keadaan darurat tidak bisa diprediksi, sehingga respons harus cepat, tepat, dan terkoordinasi,” kata perwakilan Pertamina.
Ia juga menambahkan bahwa simulasi tidak hanya dilakukan sebagai formalitas melainkan sebagai bagian dari budaya keselamatan yang diwajibkan untuk seluruh unit operasional Pertamina di Indonesia.
Meningkatkan Kepercayaan Publik
Dengan adanya latihan terpadu ini, Pertamina berharap kepercayaan publik terhadap sistem keamanan energi semakin meningkat. Masyarakat di sekitar TBBM Luwuk juga diharapkan merasa lebih tenang mengetahui bahwa aparat keamanan dan perusahaan memiliki tingkat kesiapan yang tinggi dalam menghadapi potensi insiden.
Simulasi ini rencananya akan dilakukan secara berkala selama tahun 2025 untuk menjaga kesiapsiagaan dan memperkuat kolaborasi antara Pertamina, Polres Banggai, serta seluruh pihak terkait.





